Frankly in Love by David Yoon


Published by Gramedia Pustaka Utama
Ebook Gramedia Digital 468 pages
Penerjemah: Daniel Santosa
Rating: 3.5/5

Hmmmm... Kayaknya saya baru kali ini membaca novel young adult dari penulis dari tanah ginseng. Sebelumnya cukup kenyang dengan drakornya yang sekarang sudah berlalu, digantikan Jdorama hahahaha... Tapi ternyata ada beberapa hal yang masih saya ingat tentang formula drakor yang sedikit saya temukan di novel ini. 😊😊😊

Formula romance nya yang saya maksud. Kalo topiknya, saya suka topik yang dibahas di Novel ini, lebih membumi dan tidak ada unsur fantasi itu yang penting wkwkwkwk... Kayak dulu jaman saya suka nonton Kmovie, manis manis pahit gitu. Lebih sedikit manis dibanding Jmovie yang manis dan pahit hanya berbanding satu 🤣🤣🤣

Frank Li, atau Frankly untuk sebutan manisnya, ada di tahun terakhirnya di bangku SMA. Sebagai anak dari keluarga Korea yang berimigrasi ke Amerika, Frank dan keluarganya memiliki rutinitas Pertemuan antar keluarga Korea. Para anak-anak keturunan Korea ini menyebut diri mereka Limbo. Entah bagaimana, para Limbo ini rupanya memiliki persepsi yang hampir sama seputar pandangan para orangtua mereka yang cenderung rasis. Orangtua Frank misalnya, tidak mengizinkan anaknya untuk berhubungan dengan perempuan berambut pirang, bermata yang bukan Korea. Mereka bahkan memilihkan calon jodoh anak mereka di antara keluarga Korea sendiri. Yang paling parah adalah mereka rela 'membuang' Hanna, kakak Frank yang jelas jelas menikahi cowok non Korea. Jadi bagaimana bisa mereka memiliki pemikiran sedemikian rasis padahal mereka tinggal lama di Amerika, berjuang untuk bertahan hidup di Amerika?

Sebagai remaja yang lumayan labil, Frank jatuh cinta pada Brit Means, gadis non Korea. Kepayangnya dia pada Brit membuat ia memiliki perjanjian dengan Joy Song, cewek sesama geng Limbo yang juga memiliki cowok non Korea. Seiring dengan pacaran pura-puranya dengan Joy ini, Frank mulai berpikir akan dirinya, perasaannya, keluarganya di tengah kesibukannya menyiapkan diri masuk universitas. Kabar tentang penembakan ayahnya dan penyakit mematikan sang ayah membuatnya berpikir lebih tentang dirinya dan keluarganya.

Seperti yang saya tulis di awal bahwa Novel ini memiliki formula yang sama dengan drama Korea, terutama di bagian romance nya. Ada bagian dimana cowok cewek saling mengingkari perasaan masing-masing. Ada kalanya para penonton ribut dengan pasangan yang mereka 'ship' kan dan membandingkan antara  First female lead dengan second female lead. Begitu terus hingga beberapa episode. Setelah akhirnya para karakter utama ini menentukan pilihan, barulah penonton disuguhi adegan romantis bikin mules saking banyaknya. Seorang teman mengatakan cheesy scenes ini bisa bikin muntah kalo kebanyakan hahahaha.... Adegan Frank-Joy ini yang termasuk cheesy scenes yang cukup terselamatkan dengan dialog mereka yang asik dan cerdas. Ya maklum saja, dengan nilai SAT yang mendekati sempurna tentu obrolan mereka bukan obrolan remeh temeh garing.
Dan seperti halnya di drakor, selalu ada karakter pendukung yang selalu mencuri perhatian. Di Novel ini, Q is the adorable character. Pengorbanannya untuk Frank begitu menyentuh hingga saya tak curiga ada apa dengan Q yang begitu tulus membantu Frank. Bear hugs for you, Q. You'll find another better shoulder to lay on.

Drama keluarga Frank sebenarnya sangat menarik jika ada lebih banyak porsi cerita dari sisi orangtua Frank. Bagaimana mereka bisa begitu rasis pada orang-orang sekitar yang non Korea. Perjuangan ayah Frank menghidupi Toko memang sangat terasa tapi mengorbankan Toko untuk nantinya tanpa pengelola (asumsi saya sendiri sih karena si ayah yang begitu ingin Frank masuk universitas keren) adalah satu hal yang mungkin bisa dijelaskan. Oh ya, saya baru cek Goodreads, ternyata novel ini adalah bagian 1 ya. Duh, buku 2 nanti apakah akan mengisahkan tentang Hanna? Atau kisah dari point of view Joy Song? Entahlah.

Ohya, saya lebih menyukai drama keluarga begini dibandingkan drama cinta yang diatur oleh orangtua. Nuansa Koreanya juga cukup kental dengan bahasa Korea yang terselip disana sini, nama-nama makanan yang disuguhkan waktu pertemuan, hingga gaya bahasa kaku orangtua Frank yang mungkin secara struktur kurang bagus untuk ukuran orang Korea di Amerika. Suka dengan terjemahannya. Baiklah, jika nanti ada buku 2 nya, worth waiting sih, untuk kembali baca di Gramedia Digital. 😁😁

1 Response to "Frankly in Love by David Yoon"

  1. Tampaknya cerita di dalamnya sangat seru. Tapi eh tapi saya kurang suka kovernya yang begitu banget. Jadi enggak berminat buat bacanya euy

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel