Gadis Kretek by Ratih Kumala



Ebook Gramedia Digital 288 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3,5/5

Tak kenal maka tak sayang. Pribahasa itu mungkin cocok untuk saya yang ngga mengenal rokok. Dulu waktu bapak saya masih ada, rumah saya sempat penuh dengan asap rokok. Tapi semenjak beliau ngga ada, rumah jadi steril dari asap rokok. Beberapa saat sempat merasa nostalgia ketika tamu datang dan merokok di rumah, berasa bapak saya masih ada. Tapi kemudian asap rokok itu berubah menjadi sesuatu yang tak tertahankan. Maka, ketika saya memilih buku ini sebagai tantangan baca minggu kedua bulan Juni, saya ngga ber ekspektasi tinggi. Buku ini ada nilai sejarahnya, kata teman saya, oh ya? Jawab saya.. Ya sudah.

Awalnya, saya memilih buku ini dengan pertimbangan tema RC yaitu tokoh utama perempuan, melihat gambar sampul depannya, seorang gadis dengan Kretek di tangan. Tapi lembar-lembar pertama bacaan, kok sudut pandangnya cowok ya. Tapi karena topik utama novel ini tentang sosok bernama Jeng Yah, maka saya yakin bahwa Novel ini memiliki tokoh perempuan yang kuat dan penting.

Pemilik pabrik rokok Djagad Raja tengah sekarat, dan di sela-sela igauannya, terselip satu nama yang asing bagi anak-anaknya, Jeng Yah. Siapa gerangan Jeng Yah ini, dimana bisa ditemukan soaoknya, dan seberapa penting arti dirinya bagi pemilik pabrik rokok tersebut.
Tegar, Karim dan Lebas dibuat sibuk oleh permintaan sang ayah untuk bertemu Jeng Yah. Si ibu yang tiba-tiba ngamuk mendengar nama Jeng Yah disebut-sebut, ogah bercerita tentang masa lalu suaminya. Dari sela-sela igauan itulah mereka mendapat titik terang dimana mereka memulai pencarian sosok misterius Jeng Yah ini.

Kudus, dari dulu terkenal dengan pabrik kreteknya. Ketika iseng saya Googling apa saja pabrik rokok di Kudus, tak kurang dari 12 nama pabrik ada disana, dengan Djarum sebagai rajanya. Kisah pencarian Jeng Yah pun dimulai dengan perjalanan Lebas menuju Kudus bersama 2 kakaknya. Tak mereka sangka, ada sejarah panjang dari berdirinya pabrik rokok Djagad Raja.

Cerita flashback ke tahun sebelum Indonesia merdeka. Idroes, pemuda pekerja keras yang bermimpi menjadi pengusaha rokok demi menyunting gadis idamannya, Roemaisa. Sayang, impiannya ini memiliki batu sandungan, Soeradja, pemuda yang juga mengincar gadis yang sama. Dari gelagat yang diberikan, nampaknya Roemaisa cenderung memilih Idroes. Berbekal belajar membaca dan menulis dan modal tak seberapa, Idroes mulai mencicil impiannya. Bagaimana dengan Soedjagad? Tentu saja ia tak mau kalah.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu impian Idroes terwujud, termasuk menyunting gadis idaman. Pabrik yang ia dirikan mulai beranak pinak dengan berbagai macam rokok Kretek. Putri pertamanya, Dasiyah, mulai bisa diandalkan dari urusan pembukuan hingga cita rasa Kretek. Ia menjelma seperti titisan Roro Mendut yang piawai meracik Kretek lintingan dengan ludahnya sebagai perekat kertas. Tidak hanya si ayah, Idroes, yang menyukai Kretek lintingannya, tapi juga pria-pria yang mulai mendekati gadis yang mulai mekar ini. Dari sekian pria itu, muncul pemuda antah berantah bernama Soeraja. Pemuda ini yang kelak di hari-hari akhirnya memanggil-manggil nama Jeng Yah.

Novel ini sarat dengan 'asap' menurut saya. Ada banyak momen dimana para karakternya 'ngeses' bersama, termasuk saat Idroes bersama putri kesayangannya Jeng Yah. Kisah flashback pabrik rokok Djagad Raja ini menyentuh sejarah perginya Belanda dari tanah air, dan siksa tentara Jepang, hingga revolusi partai Komunis yang ingin menguasai negeri indah ini. Hati saya sempat maktratap ketika Soeraja membuat merk Kretek baru dengan menggunakan simbol partai Terlarang tersebut. Kemudian saya cukup heran dengan kondisi Soeraja yang sepertinya tidak terpengaruh dengan status OT nya. Hmmmmm... Rupanya uang sudah bisa bicara banyak bahkan sejak tahun Indonesia masih melarat.

Cerita beberapa kali berganti setting maju mundur mengikuti perjalanan Lebas dan kakak-kakaknya juga perjalanan berdirinya pabrik Kretek Djagad Raja. Sepanjang cerita saya sudah menanti saat-saat heboh ketika Jeng Yah patah hati dan hal-hal kecil yang sudah disinggung di awal novel. Namun ada hal yang menjadi plot twist di bagian akhir. Hmmm.. Sebenarnya saya juga sudah menyadari sejak awal namun reaksi yang diberikan Lebas itu sangat epik. 👍👍

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati sejarah berdirinya pabrik kretek ini beserta drama di dalamnya. Sebelumnya, saya gagal menikmati karya penulis ini, Kronik Betawi, yang menurut saya memiliki gaya bahasa yang aneh. Not really my type. So sorry 🙊

NB:
Pertama saya membaca merk Djagad Raja ini adalah Djagad Radja, tapi setelah saya menyadari bahwa ini adalah ejaan lama, saya baru menyadari bahwa merk ini harusnya dibaca Jagad Raya 😂😂😂

NB 2:

Berbicara tentang pabrik rokok, saya teringat satu bangunan yang termasuk peninggalan Belanda di Semarang. Terletak di jalan Merak, pabrik rokok ini konon telah berusia lebih dari satu abad. Sempat berfungsi sebagai kantor administrasi, bangunan pabrik dulunya sempat menjadi tempat penyedia listrik jaringan Hindia Belanda. Untuk lebih detil sejarah Pabrik Rokok Praoe Lajar ini, silakan kunjungi situs berikut ini. 
Foto dokumentasi pribadi waktu sepedaan :D


0 Response to "Gadis Kretek by Ratih Kumala"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel