Purple Eyes by Prisca Primasari


Ebook Gramedia Digital 145 pages
Published by Penerbit Inari, 28 November 2016
Rating 4/5

"Tapi seringkali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak bisa merasa sama sekali...", Solveig (hal. 95)

Quote ini terasa cocok ketika saya membaca satu unggahan di satu media sosial setelah berita satu aktor Jepang, Haruma Miura mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Unggahan itu mengatakan bahwa ia (si pemilik status) tidak merasa apa-apa setelah tahu berita tersebut. Saya pribadi, tidak banyak menonton film-film yang dibintangi si aktor. Tapi saya mengenalnya sebagai sahabat karib aktor idola saya, Takeru Satoh. Saya shock melihat berita tersebut sekaligus khawatir dengan kondisi para sahabat yang ditinggalkan, termasuk Takeru Satoh. Saya merasa, merasa khawatir, takut, adalah satu perasaan yang umum dan manusiawi untuk dirasakan bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Ivarr, adalah salah satu orang yang tidak bisa merasakan kepedihan. Setelah adik satu-satunya terbunuh, dia sama sekali tidak merasakan emosi apapun. Bahkan setitik airmata pun menolak menetes. Kondisi berlangsung hingga kemunculan malaikat penjaga dunia kegelapan, Hades, bersama asistennya mengetuk pintu rumahnya.
Hades dan asistennya, Solveig, datang membawa dua misi. Yang pertama adalah membuat Ivarr merasa emosi, emosi apa saja, positif atau negatif, dan mencari pembunuh berantai, pengambil lever para korbannya.

Dalam misinya itu, Solveig, mantan manusia yang hidup di abad 19 era Victoria, terpaksa mendekati Ivarr. Dari semula pendekatan itu hanya demi melaksanakan tugas dari Hades, lambat laun, perasaan baru muncul dalam hati Solveig. Ivarr dan Solveig saling jatuh cinta. Dengan munculnya perasaan ini, apakah Ivarr juga akan merasakan kehilangan sang adik?

Dikisahkan secara pelan nan liris oleh penulis yang menjadi jaminan bukunya jenis Page turning. Meski tidak terlalu banyak kejutan, tapi saya sangat menikmati buku ini. Selain itu, setting novel ini ada di Norwegia, negara yang cukup jadi impian untuk saya singgahi, satu hari nanti. Penggambaran musim dingin di Norwegia cukup detil dan terasa 'dingin'  dengan dinginnya perasaan Ivarr. Plus warna purple sebagai sampul novel ini menambah rasa suka saya pada buku ini. Fixed. Buku ini bisa saya masukkan dalam kategori warna sampul favorit 😉

Eh ya, saya bersyukur buku ini masuk di Gramedia Digital, padahal penerbit Inari atau Haru itu sering php. Ada di rak, tapi status harus beli, bukan untuk pengguna premium 😔. 

0 Response to "Purple Eyes by Prisca Primasari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel