-->

Keajaiban Toko Kelontong Namiya by Keigo Higashino

 



Judul asli: Namiya Zakkaten no Kiseki (ナミヤ雑貨店の奇蹟)

Penerjemah: Faira Ammadea

Paperback 400 pages

Published: December 2020 by Gramedia Pustaka Utama

Rating: 4,5/5

Review buku ini tayang di Podcast Lila Bercerita. Klik di play button nya yaaa...

 


Susah rasanya mau me-review buku bagus ini. Apalagi setelah nonton filmnya, saya jadi kecampur-campur antara buku dan filmnya. Fiuuhhh... Tapi akan sangat mubazir jika saya ngga nulis review-nya. Well, mungkin hampir sama dengan yang saya lakukan pada review buku If Cats Disappeared from The World tempo hari, saya akan sedikit membandingkan antara buku dan filmnya.

 Adegan di buku dibuka dengan tiga orang remaja yang melarikan diri seusai merampok atau mencuri dari seseorang. Shota, salah satu diantara tiga remaja itu mengajak mereka bersembunyi di satu rumah bobrok yang terletak agak menyendiri di satu tempat. Dengan asumsi rumah tersebut tak lagi ditempati, maka mereka berniat bersembunyi di tempat tersebut. Ketenangan mereka terusik dengan tibanya sebuah surat dari pintu gulung rumah, yang ternyata dulunya adalah toko kelontong. Sedikit ketakutan, namun akhirnya Shota berinisiatif membuka surat tersebut. Yang aneh, surat itu masih baru karena tak ada debu yang menempel. Jadi siapa sebenarnya yang meletakkan surat di malam hari? Surat ini berasal dari seseorang yang memakai nama Kelinci Bulan. Ia ingin mendiskusikan sesuatu dengan seseorang yang dulu berada di toko kelontong tersebut. Si pengirim surat menyebutnya Namiya-san.

Kohei, salah satu dari tiga remaja itu tiba-tiba berinisiatif untuk membalas surat Kelinci Bulan. Suratnya berisi kegalauan antara mengikuti ajang olahraga Internasional Olimpiade atau mendampingi kekasihnya yang sedang sekarat. Perdebatan di antara tiga remaja itu cukup seru, apalagi dengan Atsuya, satu remaja yang paling logis diantara 3 temannya, berkomentar, siapalah mereka yang coba-coba memberi solusi pada seseorang, sementara mereka sendiri hanyalah pencuri-pencuri tidak berguna. 

Tapi balasan surat itu tetap ditulis. Ada semacam kelegaan yang dirasakan Shota dan Kohei ketika menyusun surat balasan. Yang tidak pernah mereka bayangkan adalah, secepat mereka meletakkan surat belasan di kotak susu di luar toko, secepat itu pula surat kedua dari Kelinci Bulan muncul. Apa-apaan ini? Setelah ditelusuri, memang ternyata ada aneh dengan fenomena surat ini. Mungkin bukan aneh, melainkan ajaib. 

Sekitar 30 tahun yang lalu, toko kelontong Namiya ini adalah toko kelontong biasa, dengan pemiliknya, seorang kakek-kakek berusia sekitar 70an. Karena tinggal seorang diri, kakek Namiya ini membuka jasa konsultasi untuk warga sekitar. Yang berkonsultasi biasanya adalah anak-anak yang menginginkan nasihat seputar sekolahnya, atau cita-citanya. Karena nasihatnya yang selalu sungguh-sungguh, surat bernada lebih serius pun berdatangan. Semua surat dimasukkan di lubang surat dari pintu gulung, dan jawabannya akan bisa dtemukan keesokan harinya di kotak susu. Keajaiban ini ternyata nyambung 33 tahun kemudian. Surat yang dikirimkan ke toko kelontong ini mengalami perubahan waktu. Tahun dimana Kelinci Bulan mengirim surat adalah tahun 1979, begitu dimasukkan ke dalam toko kelontong, tiga remaja tersebut yang berada di tahun 2012 menerima suratnya. 

Dan begitulah, korespondensi melampaui dimensi waktu ini mereka lakukan. Demikian juga dengan surat kedua, dari seorang musisi yang galau antara melanjutkan mimpinya menjadi seorang musisi atau meneruskan usaha bapaknya berjualan ikan. Surat berikutnya dari seorang wanita yang bingung antara meneruskan pekerjaannya di sebuah kantor dengan gaji kecil dan mengerjakan hal remeh temeh atau menjadi seorang hostess dengan gaji menggiurkan.

Dari sekian surat dengan masalahnya, jika saya disuruh memilih masalah siapa yang paling berat dan solusi terbaik yang diberikan tiga remaja ini, saya ngga bisa memilih. Yang unik, mereka memberi solusi dengan mengurutkan kejadian-kejadian penting yang terjadi di dunia selama kurun waktu 30 tahun terakhir. Di awal tahun 80an, internet dan komputer masih merupakan hal asing bagi masyarakat, termasuk rakyat Jepang. Namiya-san, si kakek renta ini seolah-olah menjelma menjadi peramal jitu akan masa depan. 

Hmmmm... Di satu sisi mereka meramal kejadian menyenangkan di masa depan, tapi mereka merasa ngga enak dengan kejadian buruk yang akan menimpa salah satu dari mereka.  Fenomena ajaib ini ternyata berhubungan dengan surat wasiat Namiya-san di malam dia memberikan suratnya pada anak satu-satunya.

Selain Toko kelontong Namiya, satu lagi tempat yang berhubungan erat dengan para karakter, baik di tahun 80an atau 30 tahun ke depan. Tempat itu adalah Rumah Perlindungan anak Taman Marumitsu. Nampaknya hampir semua karakter memiliki benang merah pada tempat ini. Mulai dari Namiya-san, para pengirim surat ke toko kelontong, hingga berpuluh tahun kemudian, yaitu para remaja pencuri itu.

Di versi filmnya, ada beberapa karakter pengirim surat yang dihilangkan. Maklumlah, durasi 2 jam lebih ngga bakal bisa mencakup semua permasalahan plus solusi para pengirim surat. Demikian juga dengan isi surat yang terkesan pendek-pendek, langsung ke permasalahannya, alih-alih bercerita tentang latar belakang mereka. Sebelumnya saya sudah pernah menonton filmnya sekitar tahun 2018. Begitu tahu bahwa ini adalah karya Keigo Higashino sensei, dan sama sekali ngga berbau misteri pembunuhan atau tipikal sensei, saya langsung tertarik. Belum lagi pemeran utamanya adalah Ryousei Yamada sebagai salah satu pencuri remaja. Versi filmnya, di awal saya menonton begitu menyentuh hingga dari mulai tengah film hingga akhir membuat saya sesenggukan ngga keruan. Tapi setelah membaca novelnya, rasanya saya jadi lebih tenang karena bukunya sebenarnya lebih menyentuh. Sayangnya waktu itu saya membacanya dalam perjalanan ke luar kota. Jadi waktu untuk merenungi masalah dan nasihat yang diberikan ngga bisa terlalu lama hahahaha... 

Musisi di filmnya diperankan oleh Kento Hayashi yang terlihat aneh dengan penampilan dimirip-miripkan dengan John Lennon; rambut gondrong lurus, jake dan celana jins gombrong dan kacamata bundar. Untungnya lagu yang akhirnya menjadi hit wonder buatnya, cukup menyentuh. Korespondensi  melintasi dimensi itu terlihat seperti surat menyurat era email saja. Karena, beberapa menit surat terkirim, surat balasan sudah berada di tangan. Sudah pasti gaya tulisan antara Namiya-san dan ketiga remaja ini sangat jauh berbeda. Namiya-san benar-benar memikirkan perasaan si pengirim surat, sementara di masa depan, para remaja ini menulis dengan emosional, blak-blakan, tapi itu bukan berarti mereka tidak memikirkan solusi secara mendalam. Yang menyenangkan adalah ketika akhirnya mereka mengetahui bahwa solusi mereka ternyata berhasil dan mereka menjadi saksi keberhasilan itu, secara diam-diam. Perasaan lega yang sama juga saya rasakan selama menonton dan membaca. 

Solusi apapun, meski pahit atau terdengar mustahil atau terdengar terlalu simple, tetap saja kembali kepada si pemilik masalah untuk melakukan seperti yang dinasihatkan atau tidak. Dilakukan atau tidak, tetap saja itu merupakan tanggung jawab pribadi si pemilik masalah. Namun perasaan berada di awang-awang karena khawatir bahwa nasihat itu membawa kebaikan atau tidak, tetap saja menggelayuti Namiya-san. Dan itu justru yang berpuluh tahun kemudian membawa keajaiban bagi toko kelontongnya, dan mereka yang secara tidak sengaja berkaitan dengan toko kelontong ini. Perasaan tulus ikhlas yang diberikan Namiya-san selama sesi konsultasi seperti memberi aura ajaib bagi tokonya. 

Meski sangat terasa bau fantasinya, novel dan filmnya The Miracles of Namiya General Store ini adalah tipikal novel atau film hangat yang tiap kali ditonton ulang, kalian akan merasa beruntung telah menemukan buku atau film ini. Kehangatan di dalamnya sangat terasa hingga akhir. Rasanya sayang sekali ketika saya harus mengakhiri perjalanan membaca novel ini. 


Trailer film-nya yang dirilis tahun 2017

0 Response to "Keajaiban Toko Kelontong Namiya by Keigo Higashino"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel