Before We Forget Kindness by Toshikazu Kawaguchi
Original title: やさしさを忘れぬうちに
Translator: Geoffrey Trousselot
Ebook 224 pages
Published September 14, 2024 by Picador
Rating: 3,5/5
Setelah lebih dari 2 tahun saya terakhir membaca series Before the coffee Gets Cold volume 4, akhirnya saya kembali mengikuti kisah orang-orang dengan penyesalan mendalam dan ingin kembali ke masa lalu, atau datang ke masa depan, melalui kafe bernama Cafe Funiculi Funicula. Ceritanya masih memiliki style yang sama, yaitu, seseorang dengan penyesalannya terhadap keluarga, kekasih atau sahabat, dan ingin sekedar melepaskan penyesalan itu dengan kembali ke masa lalu.
Seperti biasa, di awal kisah di setipa volume, penulis selalu memberikan gambaran seperti apa kafe yang terletak di Jimbocho, distrik Kanda di Chiyoda City, Tokyo. Terutama peraturan yang berlaku bagi tiap orang yang ingin kembali ke masa lalu atau melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Misalnya, hanya mereka yang pernah datang ke kafe Funiculi Funicula yang bisa melalukan time travel; hanya satu tempat duduk yang bisa membawamu ke masa lalu atau masa depan; waktu yang berlalu hanya sebatas kopi masih terasa hangat, kopi harus diminum habis sebelum benar-benar dingin. Dan satu lagi, orang yang ingin melakukan perjalanan waktu tidak bisa mengharapkan adanya perubahan di masa sekarang.
Tentu rumor tentang kafe ini sudah menyebar, tapi berapa banyak yang mau menerima sebegitu banyak peraturan? Terlebih lagi, tak akan yang berubah setelah kau melakukan perjalanan waktu. So, what's the point of traveling back? Begitu pasti cara berpikir mereka. Tentu saja ada yang tetap ingin sekedar 'melegakan' perasaan mereka di masa lalu.
Ada 4 kisah dalam series ini.
Kisah pertama, The Son, bercerita tentang Yuki Kiriyama, bocah 7 tahun yang ingin bertemu orangtuanya yang pada hari bahagia si bocah, ternyata justru mengumumkan perceraian. Kebahagiaan hari itu diganti dnegan kesedihan yang berkelanjutan, hingga ia ingin kembali berada di waktu orangtuanya mengumumkan perceraian. Apakah perceraian itu tetap terjadi? Tentu saja. Tak ada yang berubah meski kamu melakukan perjalanan waktu.
Kisah kedua, The Nameless Child, bercerita tentang pasangan bahagia yang sedang menantikan buah hati mereka. Suami istri ini bergantian mengusulkan nama untuk anak mereka, tapi tentu saja menunggu jenis kelamin si bayi. Nama si bayi belum juga ditentukan, hingga sang suami meninggal dalam tugas...
Kisah ketiga, The Father, bercerita tentang kawin lari yang dilakukan seorang anak perempuan. Setelah mengenal selama hanya beberapa bulan, si anak ingin menikah. Sang ayah tak memberi restu, hingga mereka kawin lari. Putus kontak antara ayah dan anak berlangsung selama bertahun-tahun. Penyesalan keduanya menumpuk sekian tahun hingga mereka ingin kembali ke masa dimana hubungan mereka layaknya ayah dan anak.
Kisah terakhir, The Valentine, bercerita tentang dua sahabat Ayame dan Tsumugi. Ayame cantik, cerdas dan populer. Sebaliknya, Tsumugi cewek pas-pasan yang beberapa kali cowok yang ia taksir justru menyukai Ayame. Rasa cemburu membuatnya menjauhi Ayame. Persahabatan mereka dimulai dari rasa suka terhadap kuil-kuil dan bahasa Samurai yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari membuat mereka seperti tak terpisahkan. Tapi perpisahan yang dipilih Tsumugi membuahkan rasa sesal hingga ia ingin kembali.
Buat pembaca series ini, saya yakin sudah hafal dengan konflik dari setiap cerita. Penyesalan selalu datang terlambat, berkejaran dengan nasib seseorang atau lebih tepatnya dengan umur. Dari 4 cerita tadi, hanya satu yang tidak melibatkan kematian. 3 lainnya sudah menjadi pattern dari kisah-kisah di series ini. Dari pengalaman saya membaca 4 buku sebelumnya, 2 buku pertama membuat saya menangis brutal, sementara 2 buku berikutnya, saya sudah begitu kebal hahaha... Begitu pun dengan kisah penyesalan di buku kelima ini. Saya menunggu kapan saya bakal sedih, dan baru saya temukan di cerita terakhir, dan itu pun cuma, ooohhhh.... ternyata begitu. Apakah saya mulai kehilangan minat dengan kisah-kisah di dalam kafe Funiculi Funicula ini? Hmmmm... Sepertinya belum sih. Cuma ngga begitu terharu. Untungnya si penulis masih terus menyajikan ceritanya secara menarik. Cerita tentang persahabatan antara Ayumu - Tsumugi dengan bahasa Samurai yang hanya mereka berdua gunakan, jadi sangat terasa kedekatan keduanya (P.S. salut dengan si penerjemah yang menerjemahkan bahasa Samurai dengan bahasa Inggris ala Inggris klasik. Berasa membaca karya Shakespeare).
Oya, yang menjadi sedikit kendala buat sewaktu membaca ini adalah lompatan waktu. Terutama di kisah terakhir, Kazu Tokita, the waitress yang biasa meladeni tamu kafe, digantikan oleh Kei Tokita yang di banyak kisah sudah meninggal, meninggalkan Nagare dan putrinya. 8 atau 10 tahun yang lalu kah? Saya malas menghitung waktunya hahaha... JAdi ya terima saja :D
Book six is on the way.... See you in Funiculi Funicula Cafe on the next 2 years, perhaps.... :D

0 Response to "Before We Forget Kindness by Toshikazu Kawaguchi"
Post a Comment