Tempat Terbaik di Dunia by Roanne Van Voorst
Judul lengkap: Tempat Terbaik di Dunia : Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta
Penerjemah: Martha Dwi Susilowati
Paperback: 192 pages
Published: January 1, 2022 by Marjin Kiri
Rating: 4/5
Ketika buku ini lewat di timeline goodreads, entah kenapa saya kok pengen baca. Saya suka membaca artikel-artikel pendek tentang kota-kota atau tempat-tempat sewaktu saya masih berlangganan surat kabar. Dan buku ini, meski masuk kategori non fiksi, karena merupakan catatan pengalaman peneliti dari Belanda Roanne, kisah hidupnya selama hidup bersama orang-orang yang tinggal di Bantaran Kali Jakarta serasa kisah fiksi.
Dimulai perkenalan Roanne dengan Tikus, si pengamen jalanan yang menjanjikan tempat terbaik yang selama dicari Roanne, tempat itu adalah Bantaran Kali Jakarta. Untuk memahami bagaimana orang-orang yang hidup berdampingan dengan banjir dan kebakaran sewaktu-waktu, Roanne perlu tinggal bersama mereka.
Dengan kamar sederhana dan peralatan sehari hari yang sangat sederhana, kisah Roanne dimulai.
Enin, Neneng, Yusuf, Pinter, dan masih banyak lagi adalah nara sumber Roanne yang tepat. Bertahun-tahun hidup di Bantaran Kali, membuat mereka memiliki persiapan matang ketika musim banjir datang. Tidak hanya persiapan materi, mental pun sudah mereka siapkan. Berhari-hari tinggal di atap rumah sambil menunggu banjir surut, mereka masih santai ngobrol, merokok, memberi petuah segala macam pada Roanna yang memang lebih muda dari mereka. Lucunya, mereka memberikan standar hidup yang sama pada Roanne yang memiliki kultur yang sangat berbeda.
Para wanita yang tinggal berdekatan dengan Roanna, tak segan-segan menyuruh Roanne berkerudung, melakukan sholat, hingga mengajari berbagai macam cara memuaskan pasangan. Suara orang yang lebih muda, tak bakal didengar meski banyak penolakan pada diri Roanne. Sebagai orang muda, Roanne tak bisa memberi pendapat pada cerita sinetron dari televisi yang ditonton beramai-ramai meski jalan ceritanya cacat logika. Pengalaman buruk para penduduk Bantaran Kali, membuat mereka tak percaya pada pengobatan medis dan dokter. Ketika Roanne sakit, pengobatan alternatif seperti jejamuan, pijat, terapi lilin untuk telinga, alih-alih sembuh, Roanne semakin sempoyongan 😓😆😆
Ada banyak hal yang membuat saya shock seperti yang dirasakan Roanne. Cerita-cerita tentang orang miskin di film, atau novel, tak bisa disandingkan dengan pengalaman Roanne hidup berdampingan dengan mereka. Kesulitan keuangan, kesehatan, hingga ancaman penggusuran terhadap kawasan kumuh, setiap saat membuat para penduduk was-was. Mereka hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Jika ada keluarga, mereka mengandalkan keluarga, jika tak ada, lingkaran pertemanan yang solid membuat mereka saling membantu. Membaca buku ini membuat saya lebih melek pada kondisi negara yang masih jauh dari baik, terutama untuk orang-orang pinggir yang tak punya siapa-siapa. Semoga, orang-orang yang seperti Enin dan lainnya yang tinggal entah dimana, segera mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

0 Response to "Tempat Terbaik di Dunia by Roanne Van Voorst"
Post a Comment