Kamis, 26 Januari 2017

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan


Ebook, Ijak Application, 256 pages
Published Maret 2014 by Gramedia Pustaka Utama 
Rating 3/5

Setelah membaca Corat Coret di Toilet, sebenarnya saya ngga pengen baca EkaKur yang lain dulu karena agak kecewa dengan CCdT. Bukannya apa-apa sih, dulu saya sempat suka dengan Cantik itu Luka, meski tremor nggendong bukunya. Tapi CCdT kurang nendang buat saya. Eh, Kok terus nemu di Ijak and available di pinjam pula, ya sudah. Baca deh :))

Berkisah tentang dua sahabat, Aji Kawir dan Si Tokek (nama absurd yang jarang ada yang punya). Seperti umumnya remaja, mereka mulai mengeksplor tentang seks. Sampai lah mereka pada pengalaman mendebarkan di rumah janda gila setelah kematian suaminya. Bukan. Bukan mereka yang melakukan adegan tak senonoh pada janda itu, melainkan dua oknum polisi yang memperkosa si janda. Pertunjukan mendebarkan bagi dua remaja yang langsung merasakan ada sesuatu menggembung di selangkangan mereka. Sayang, pertunjukan itu harus terhenti karena Aji ketahuan mengintip. Dia digelandang masuk dan disuruh melakukan hal yang sama seperti dua oknum polisi tadi. Alhasil, burung Aji Kawir ngeper dan tidur. Panjang. Sekali.

Senin, 23 Januari 2017

Semusim, dan Semusim Lagi by Andina Dwifatma


Paperback 232 pages
Published April 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3,5/5

Sebelumnya saya menduga novel ini masuk kategori absurd mengingat novel ini menjadi pemenang Sayembara Menulis Novel oleh DKJ tahun 2012. Tapi hampir separo buku ini terasa 'normal' tak ada kisah absurd yang saya harapkan di awal novel. Tapi ternyata, separo terakhir novel ini memenuhi dugaan saya. Selamat datang, absurdity.

Bermula dari sebuah surat yang diterima oleh si Aku (selama ia menceritakan pengalamannya, sama sekali ia sebut nama nya sendiri), dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya. Si ayah yang terpisah darinya sejak ia berumur dua tahun sekarang tinggal di kota S. Berdua tinggal bersama Mama-nya tidak membuatnya dekat, bahkan mereka hanya mengobrol ketika diperlukan saja. Sehari setelah si Mama tiba-tiba menghilang, si Aku memutuskan untuk berkunjung ke kota S.

Kamis, 19 Januari 2017

Simple Miracles: doa dan arwah by Ayu Utami


Paperback 177 pages
Published 2014 by KPG
Rating 4/5

Hantu tidak ada jika kita tidak memikirkannya (hal. 11)

Membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah-kisah hantu pada waktu kecil dulu. Kisah yang tentu saja (untungnya) tak pernah saya alami sendiri. Semua kisah dihembuskan oleh tetangga kanan kiri yang lebih tua dan juga teman-teman sekolah. Kisah tentang Wewe, gendruwo, kendit nglewer, dan lainnya adalah kisah favorit yang mendirikan bulu roma. Begitupun dengan tempat-tempat yang konon angker yang ternyata berada di sekitar rumah saya; mulai dari tetangga sekian rumah dari rumah saya, hingga sekolah SD yang memang cukup seram di malam hari, meskipun itu adalah sekolah agama, dimana semua murid mengaji di pagi dan siang hari, dan konon menjadi tempat nongkrong hantu-hantu di malam hari. Yah, itu hanya konon sih...

Ternyata, apa yang saya alami ini tak jauh berbeda dari Ayu Utami kecil, yang membedakan adalah sumber kisah hantu seru ini berasal dari dua Bibi Gemuk dan Kurus-nya. Hal lain yang membedakan adalah Ayu mencatat sebagian kenangan masa kecil itu dan mengaitkannya dengan spiritualitas. Sosok Ayu Utami memang selama saya mengenal dari buku-buku nya adalah seorang sekuler, yang sedikit nyinyir dengan berbagai aturan agama. Sebelum saya membaca buku yang masuk kategori true story ini, saya membaca kisah asmaranya di Cerita Cinta Enrico. Jelas sekali pandangan seorang Ayu Utami disitu. Tak saya sangka, bahwa di buku ini, beliau bisa begitu relijius setelah mengalami fase tak beragama. Somehow, I feel happy but jealous at the same time.

Kisah dibuka dengan kisah-kisah hantu, kakak-kakaknya yang usil hingga ketakutan sekaligus keterikatannya pada sosok ibunya. Judul di beberapa bab awal cukup menyeramkan, meski isinya tak seseram judulnya. Sebagian menurut saya malah kocak. Kisah menjadi lebih seram begitu kelahiran sang ponakan, Bonifacius. Sang ponakan ini yang memberi kisah-kisah hantu menjadi real dan konsisten. Jika kisah hantu dulu bersumber dari orang-orang dengan awalan "kata si ini atau Fulan", hingga tak jelas juntrungannya.

Kamis, 05 Januari 2017

Comics I Read in 2016




Seperti yang sudah pernah saya posting disini dan disini, bahwa saya mengalami perubahan drastic dalam selera membaca, saya sekarang membaca manga atau comic :D Sebenarnya sudah dimulai dua tahun lalu ketika seorang teman saya mengenalkan comic Diva series dan kemudian disusul dengan Bakuman yang sampai saat ini masih on going, dan masih idle di volume 13! Tentu saja ini gegara saya jarang bertemu dengan pemasok alias penyedia komik yang bisa saya pinjam mwahahaha…

Meski demikian, saya masih terus membaca komik menggunakan aplikasi manga reader di HP, yaitu Manga Browser yang sangaaat recommended untuk pecinta manga. Well, masih ada halangan juga dalam membaca manga ini, meski sebagian besar yang saya bookmark, sudah selesai di upload oleh penyedia layanan manga, tapi masalah ada pada mood saya yang berubah. 😀😀😀

Akhirnya setelah saya hitung jumlah manga yang saya baca hingga tuntas volume-nya, hanya ada beberapa😁😁😁

Death Note

Ini adalah my most favorite manga ever. Saya bahkan nge-fans berat dengan karakter L, yang sukses membuat saya mabuk kepayang, hingga pemeran movie version-nya saya tonton berulang-ulang. Setelah selesai membaca komik yang pada waktu itu cuma modal minjam, saya berkeputusan membeli seri ini lengkap. Dan ternyata hingga sekarang seri Death Note adalah satu-satunya seri manga yang saya punya, secara lengkap! Tapi sayang, hanya seri ini yang saya ngga mampu nulis review-nya. Mugkin suatu hari nanti jika saya baca ulang yaaa 😇😇

Senin, 02 Januari 2017

Book Kaleidoscope 2016




Setahun sudah berlalu… yeaaayyy… dan jumlah buku berlabel  Read di rak saya di Goodreads tentu saja bertambah. Meski yah, kalau dihitung jumlah paperback koleksi saya, jumlah itu tidak begitu signifikan hihihi…  Posting ini hanya sekedar catatan ringan saja buat saya pribadi, hanya untuk melihat ada sedikit perubahan genre dari bacaan yang saya baca dan juga cambuk buat diri sendiri yang mulai letoy mengikuti posting bareng yang diadakan BBI hikssss…

1.       Berkurangnya keikutsertaan saya dalam berbagai Reading Challenge

Sebenarnya ini memang sudah saya sengaja di awal tahun 2016. Bukannya apa-apa sih. Target saya waktu itu adalah menghabiskan timbunan, apapun genrenya, berapapun jumlah halamannya. Pokoknya babat habisss. Sayangnya, challenge babat timbunan itu harus dilanjutkan ke tahun-tahun yang akan datang hahahaha…

2.       Membaca komik yang semakin intens

Dimulai tahun lalu, ketika seorang teman mulai mengenalkan komik Bakuman pada saya, dan kemudian Death Note yang kesemuanya membuat saya ketagihan. Hasilnya, aplikasi manga reader di HP saya dipenuhi bookmark manga-manga yang sebagian kecil sudah saya baca. Tapi dari sebagian kecil itu saya review looo :D

Wrap Up Post Read and Keep Challenge 2016




Bermula dari dua tahun lalu ketika salah seorang dari anggota Joglosemar mencetuskan ide Babat Timbunan, saya bertekad bergabung. Tapi sayangnya, saya gagal di tengah jalan hingga saya pun ingin mengulang challenge yang sama tahun lalu ditambah satu challenge lagi, yaitu Read and Keep challenge. Tantangan ini memaksa peserta untuk menyisihkan uang sejumlah tertentu untuk ditabung tiap kali selesai membaca satu buku. Sesuai dengan yang pernah post disini, saya pun mulai menyediakan tempat untuk menabung. Tapi dalam perjalanan menunaikan tantangan ini, saya membuat perubahan-perubahan kecil sesuai isi kantong saya hahaha… 

Oke, jadi akhirnya saya mengubah jumlah uang yang harus saya masukkan ke tabungan Read and Keep Challenge: paperback  Rp. 30.000, ebook dan komik  Rp. 10.000. Dalam sebulan, terkadang saya menyelesaikan satu judul  komik dengan jumlah sekitar 10 volume. Nah, itu berarti saya harus menyisihkan 100k untuk masuk ke celengan. Berat sih, tapi begitu dihitung, puwasss rasanyaaa hahahaha…

Jumlah akhir dari tabungan saya adalah Rp. 1.450.000

Eeenggg… itu sebenarnya sudah sering saya kurangi untuk membeli buku atau sampul buku atau container untuk rumah buku koleksi saya. Pokoknya yang berhubungan dengan buku, saya mengambil dari tabungan tersebut. Asyik kan? Akan saya belanjakan untuk apakah uang tersebut? Eeemmm… saya lagi mikir inih hahaha… tapi yang jelas, ada challenge serupa atau tidak, saya bakal meneruskan kebiasaan sehat ini… #tsaaaahhh…  :D

Wrap Up Post buku Cetak 2016




Selamat Tahun Baruuuu 2017!!! 

Wah, memasuki tahun baru 2017 ini, saya sedikit terpacu untuk menambah jumlah bacaan dibandingkan tahun lalu. Well, thun lalu saya cukup sukses melampaui target baca saya yang tadinya 55 buku, dan saya menuntaskan 70 buku! Ttta….Tapiii..itu termasuk komik-komik yang akhir-akhir ini tengah membuat saya tergila-gila wkwkwk…

Baiklah, langsung saja laporan singkat buku cetak yang sukses say abaca meski tidak semuanya sukses saya review :D

1.       A Tree Grows in Brooklyn by Betty smith
2.       Little Princes by Connor Grennan
3.       Animal Farm by George Orwell
4.       The After Dinner Mysteries by Tokuya Higashigawa
5.       Lalita by Ayu Utami
6.       Ayah by Andrea Hirata
7.       Segala Masa Lalu Kita by Cristin Terril
8.       The Wind Leading To love by Yuiki Ibuki
9.       Dilan by Pidi baiq
10.   Orang-Orang Proyek by Ahmad Tohari
11.   The Ho(s)Tel by Ariy dkk
12.   Bakuman 13 by Tsugumi Ohba
13.   A Lucky Child by Thomas Burgenthal
14.   Death Note 1 by Tsugumi Ohba
15.   Death Note 2 by Tsugumi Ohba
16.   Death Note 3 by Tsugumi Ohba
17.   Death Note 4 by Tsugumi Ohba
18.   Death Note 5 by Tsugumi Ohba
19.   Death Note 6 by Tsugumi Ohba
20.   Death Note 7 by Tsugumi Ohba
21.   Death Note 8 by Tsugumi Ohba
22.   Death Note 9 by Tsugumi Ohba
23.   Death Note 10 by Tsugumi Ohba
24.   Death Note 11 by Tsugumi Ohba
25.   Death Note 12 by Tsugumi Ohba
26.   A Untuk Amanda by Annisa Ihsani
27.   Battle Royale: the Last Stand by Stella Furuya
28.   Maya by Ayu Utami
29.   London by Windry Ramadhina
30.   The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka
31.   The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka
32.   The Chronicles of Audy: 4/4 by Orizuka
33.   The Chronicles of Audy: O2 by Orizuka
34.   Ajdar by Marhane Satrapi
35.   Katarsis by Anastasia Aemilia
36.   The Journeys 2 by Alanda Kariza
37.   Lizzie Zipmouth by Jacqueline Wilson
38.   Railway Children by E. Nesbit
39.   Melbourne by Winna Effendi
40.   Holy Mother by Ariyoshi Rikako
41.   The Kite Runner by Khaled Hosseini
42.   Factory Gild and Glasses Man by Mitsuru Fujii

Waaahhh… dari 70 buku, ternyata ada 42 buku cetakkk… hahaha… meski yah, 14 diantara adalah komik, dan beberapa diantaranya buku anak-anak dengan jumlah halaman kurang dari 50 lembar. Tapi namanya tetap buku cetak, kan?

Resolusi tahun depan, tetap BABAT TIMBUNAANN!!! GAMBARIMASHOOO… :D


Minggu, 01 Januari 2017

The Kite Runner by Khaled Hosseini




Paperback 616
Published by Qanita, Maret 2006
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Rating 4/5


“Untukmu, keseribu kalinya”.

 Quote ini berasa sangat biasa pada saat yang sama juga membuat hati saya pilu. Bahkan ketika menonton clip potongan film ini di YouTube, meski tanpa subtitle, pada saat yang tepat, saya bisa tahu bahwa Amir menirukan kalimat Hassan ini pada anaknya. Demikian juga para pemberi komentar yang lain rata-rata mengatakan kalimat yang sama.

Amir dan Hassan adalah anak-anak yang tumbuh sebelum masa penjajahan Russia di Afghanistan. Tentu saja mereka memiliki masa-masa bahagia, apalagi dengan kekayaan ayah Amir. Hassan, sebagai anak pembantu, seolah sudah dianggap anak sendiri oleh ayah Amir, tapi bagi Amir sendiri, Hassan bukanlah seorang teman. Adik? Amir masih ragu untuk mengakuinya. Meski tinggal di tempat yang sama, namun masa lalu Hassan yang memiliki ayah dan ibu keturunan Hazara, keturunan yang tidak dianggap bagi warga Afghanistan, cukup membedakan status mereka di masyarakat. Hazara, konon adalah anak keturunan dari bangsa Mongol yang masih tinggal di Afghanistan. Siapapun ia, selama ada darah Hazara mengalir di tubuhnya, maka nistalah hidupnya.

Kehidupan kanak-kanak mereka dihiasi dengan berbagai macam permainan seru, mulai dari permainan kartu, hingga layang-layang. Satu lagi yang membedakan antara Amir dan Hassan, anak keturunan Hazara tidak belajar membaca. Yang terjadi kemudian adalah Hassan hanya menjadi pendengar cerita yang baik dari buku-buku yang diceritakan oleh Amir. Dari sini pula, kelak Amir mengetahui akan jadi apa ketika dewasa nanti. Tidak menjadi seperti ayahnya yang sibuk berbisnis, melainkan menjadi penulis. 

Masa kanak-kanak belum lagi lewat ketika satu peristiwa memilukan terjadi pada Hassan hingga membuat Amir merasa bersalah, rasa bersalah yang ia bawa hingga mengusir keluarga Hassan dari rumahnya. Apakah Amir memang terlahir sebagai pengecut? Sesuatu yang harus ia buktikan kelak di kemudian hari.

Masa-masa tentram Afghanistan akhirnya berlalu setelah kependudukan Russia, muncullah rezim Taliban, suatu masa ketika Amir dan ayahnya memilih bermukim di Amerika. Di sana, mereka yang tadinya kurang memiliki hubungan yang harmonis, akhirnya hubungan mereka membaik. Selama mereka tinggal di Amerika, Afghanistan tetap bergolak. Amir beranjak dewasa, demikian juga Hassan. Amir mulai menikah, bagaimana dengan Hassan? Rasa bersalah Amir masih tetap ia bawa hingga panggilan dari sahabat masa lalunya, Rahim Khan, membawanya kembali ke Afghanistan. Mau tak mau, Amir harus menghadapi masalah masa lalunya, dan menebusnya sekaligus menerima kenyataan pahit tentang ayah yang selama ini ia kagumi.