-->

Burung-Burung Kecil by Kembangmanggis

Paperback 128 pages

Published Desember 3, 2018 bu Gramedia Pustaka Utama

Rating 3/5

Sebelumnya, saya secara iseng membaca sketsa-sketsa yang ditulis oleh penulis yang sama berjudul Anak-anak Tukang. Ebook-nya saya pinjam dari Gramedia Digital, ternyata saya suka sekali dengan tulisan si penulis. Maka ketika saya melihat buku ini di tumpukan buku diskon Gramedia, saya tak ragu membelinya.

Tadinya saya pikir buku ini mirip dengan buku yang sebelumnya saya baca, berupa sketsa kehidupan. tapi ternyata ini adalah novel. 

Tokoh sentral disini adalah Eges, seorang anak jalanan yang kadang rindu pulang. Eges memiliki dua ibu, yang kalo saya tidak salah mengartikannya, satu ibu yang melahirkannya dan satu ibu yang mengelola rumah untuk anak-anak jalanan. Eges anaknya sangat lincah, gesit, suaranya kencang dan sangat blak-blakan. Ketika is sukses mengemis dan mendapatkan banyak uang, ia cukup royal pada temannya. 

Meski di jalanan Eges bisa hidup mandiri, tapi dia tetaplah bocah yang merindukan kasih sayang seorang ibu. Rumah untuk menampung anak jalanan dipenuhi anak-anak sebayanya dengan satu ibu yang penuh kasih sayang. Tak jarang Eges merasa cemburu dengan anak-anak lain yang mendapat perhatian dari ibu. Tanpa ia sadari, sebenarnya si ibu juga sangat sayang pada dirinya.

Hmmm... Saya ngga mengira buku ini akan bercerita tentang sosok anak jalanan dengan segala konflik di jalan maupun dalam hatinya. Tapi ketika sudah mulai membacanya, saya tak bisa berhenti. Sangat khas Kembangmanggis. Pilihan diksinya selalu menarik. Judul burung-burung kecil ini digunakan sebagai pengganti anak-anak jalanan yang datang dan pergi. Sayangnya kisahnya terlalu pendek, masih harus dibagi dengan karakter anak lain, selain Eges. Saya ngga terlalu berharap ending-nya bakal sampai Eges dewasa, tapi ternyata endingnya terlalu pahit. Hmmm... Kehidupan jalanan memang sangat pahit, bahkan untuk anak sekecil Eges.

2 Responses to "Burung-Burung Kecil by Kembangmanggis "

  1. Buku dari penulis Kembangmanggis ini kerap wara-wiri. Tetapi saya mengira kayak buku puisi begitu, makanya belum terlalu tertarik. Tapi ternyata buku ini malah bentuknya novel. Jadi pengen baca juga.

    ReplyDelete
  2. Hapudin: dibandingkan novel ini, aku lebih suka yang berbentuk sketsa seperti yang berjudul Anak-anak Tukang itu. Sudah ku baca and ku review lo :D

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel