Selasa, 27 Juni 2017

Miseinen dakedo Kodomo ja nai by Kanan Minami




Judul asli:  未成年だけどコドモじゃない


English title: Even though I’m a Minor, I’m not a Child
20 chapters, read scanlation only
Rating: 2,5/5
 
Cerita tentang high school dengan genre shoujo memang tidak pernah jauh dari romance, entah itu sweet atau bitter sweet. Tapi kalo genre shoujo kebanyakan memang sweeettt banget meski ending manga yang satu ini berasa pengen banting gadget hahahaha…

Kisah dimulai dari cewek manja, 16 tahun, Karin Oriyama yang nge-fans berat dengan kakak kelasnya, Nao Tsurugi; cakep, pintar dan jago olahraga pula. Pada ulang tahunnya yang ke 16, Karin mendapat hadiah ultah yang tidak main-main, ijin menikah dengan cowok pilihan ayahnya. Semula, ia menolak mentah-mentah, sampe mengancam bunuh diri segala, tapi ternyata cowok yang bakal dijodohkan dengannya adalah si kakak kelas idaman!!! Cuwiiwiiitt… hahaha…

Hari pernikahan pun diatur. Karin menyambut pernikahan ini dengan malu-malu mau, berbeda dengan Nao yang tanpa disangka sangat dingin ketika mereka tak lagi berada di hadapan orangtua masing-masing. Dan, terbongkarlah rahasia mengapa mereka berdua dinikahkan meski masih berada di bangku sekolah; orangtua Nao yang dulunya adalah sahabat karib ornagtua Karin sedang jatuh miskin dengan usahan bisnisnya yang bangkrut. Dari pihak Nao sendiri juga tak kalah mengejutkan alasannya mengapa ia mau saja dinikahkan dnegan Karin; Nao ingin keluar dari rumah orangtuanya yang tiap hari ribut menyisakan trauma pada Nao. Apa kabar perasaan Karin ketika mengetahui kenyataan ini? Ya kebayanglah hancurnya dirinya.

Rabu, 21 Juni 2017

Bakuman 17 by Tsugumi Ohba and Takeshi Obata




Paperback
Published by M&C
Rating 5/5

Baru kali ini saya penggeeeen banget nulis review untuk Bakuman. Biasanya sih hanya cukup di review di Goodreads, setelah itu, sudah :D

Tapi karena sekian lama saya ‘berpisah’ dari serial ini, kalo tidak salah saya terakhir membaca volume 13 tahun lalu, jadi sedikit banyak saya kudu mengingat-ingat konflik terakhir di volume yang terakhir saya baca itu. 

Terus terang, duluuuu, ketika saya membaca volume sebelumnya, saya memang saya sangat antusias mengikuti kiprah duo mangaka yang waktu itu masih junior, yaitu Ashirogi Muto sensei. Tapi tidak jarang, saya cukup bosan dengan segala meeting para kepala editor, hingga kadang saya ngantuk, dan kurang menikmati. Tapi sangat berbeda setelah saya ‘berpisah’ cukup lama dengan serial ini. Sejak volume 14, saya jadi terbakar emosi dengan kehadiran karakter baru, Tohru Nanamine, yang di volume 13, sudah disebutkan oleh penulis. Bahkan manga yang ia tulis juga sangat menarik hingga sekejap saya melupakan bahwa ini adalah manga di dalam manga hahaha…

Nah, inilah yang sebenarnya pengen saya tulis disini. Manga di dalam manga.

Sabtu, 03 Juni 2017

Sceduled Suicide Day by Akiyoshi Rikako




Published by Penerbit HaruMay 8, 2017
PenerjemahAndry Setiawan
Rating 4/5

I can say that this book is different from the other books of hers. Mungkin tidak semengejutkan buku sebelumnya, Holy Mother, tapi tetap saja saya syukaaaaa.... ;)) Apalagi info-info seputar fengshui dan deretan nama makanan, cara pembuatannya,  lengkap dengan inovasi kreatif dari para karakter di Novel ini bikin mouthwatering.... yuuummmm....

Ruri Watanabe, atau Ruri chan sudah memutuskan hari bunuh diri dengan lokasi yang ia cari di situs khusus bunuh diri. Desa Sagamino adalah lokasi bunuh diri yang tepat baginya. Setelah menulis surat wasiat bagi siapapun yang akan menemukan suratnya, Ruri chan pun menuju lokasi bunuh dirinya. Sayang langkahnya ini terhambat oleh hadirnya sosok hantu laki-laki yang menghalanginya untuk bunuh diri. Alih-alih menkutkan, si hantu ini justru menawarkan bantuan bagi Ruri-chan untuk mengusut kasus kematian ayahnya.

Kamis, 25 Mei 2017

Oppa and I series by Orizuka & Lia Indra Andriana




Paperback 540 halaman
Published by Penerbit  Haru, Desember 2016
Rating 2,5/5

Salahkan momen saya membaca Novel ini ketika saya tak lagi maniak Drakor. Salahkan juga saya membaca genre teenlit ketika usia saya tidak lagi teen,  bahkan jauh dari teen  hahahaha... Jadi yah, bisa dimaklumi jika Rating saya pada buku ini tidak se-wah mereka yang sudah memberi rating terlebih dulu di Goodreads. Jika diingat-ingat, saya dulu pernah cukup suka dengan Novel Orizuka yang sangat drakor,  berjudul Fate. Saya bahkan mengingat beberapa vocabulary Korean yang berada di glossary paling belakang. Tapi saya tidak cukup suka dengan novelnya yang berjudul Infinitely Yours yang juga sangaaattt drakor, padahal saat itu saya masih cukup suka nonton drakor. Jadi gimana dong penilaian saya ini? Engggg.... saya juga bingung.

Jadi gini, sebelum saya membaca Novel ini, saya baru saja menamatkan dorama Great Teacher Onizuka versi tahun 2012. Permasalahan anak-anak SMA di sekolah itu cukup rumit hingga membutuhkan guru macam Onizuka sensei. Meski kadang permasalahan agak menjengkelkan macam rasa bersalah yang berlebihan hingga membuat seorang murid ingin bunuh diri, tapi tetap saja konflik di Novel ini berasa remeh banget, apalagi bumbu idol idol macam drakor beneran.

Oya, kayaknya tulisan ini ngga bakal jadi review karena saya bakal ngoceh ngga karuan tentang apa yang sebelumnya saya baca, tonton, atau selama membaca Novel ini dan sesudahnya. Sebelumnya, saya pernah mengatakan pada teman saya yang membeli buku ini (iya, saya cuma modal minjem buku ini), bahwa Novel lokal yang berkisah ala ala drama Korea, biasanya selalu dibumbui  dengan bahasa Korea yang tersebar di sepanjang Novel.  Padahal Novel terjemahan Korea atau Jepang saja tidak memasang banyak sekali Vocab demi mendapatkan feel sangat Korea atau Jepang. Bahasa Korea/ Jepang dipakai jika kisah dalam Novel menceritakan sesuatu yang berbau negara tersebut, jadi tidak semata mata hampir semua phrasa atau ekspresi ditulis dalam bahasa Korea/ Jepang. Saya pernah membaca Novel lokal dengan judul Jepang yang ternyata lebainya mirip drakor, dengan ekspresi bahasa Jepang yang tersebar sepanjang Novel, tidak ada bedanya dengan Novel ini. Sebaliknya,  Novel karya Akiyoshi Rikako dan Manabu Kaminaga dan beberapa penulis Jepang lainnya yang notabene adalah terjemahan bahasa Jepang, justru memuat bahasa Jepang untuk istilah-istilah tertentu saja. Itu sudah sangat Jepang tanpa harus sedikit-sedikit bahasa Korea/ Jepang demi mendapatkan feel-nya. (kok jadi muter-muter gii ya hahahaha….)

Minggu, 21 Mei 2017

Me, Earl and dying Girl by Jesse Andrews




Paperback 332 pages
Published 2016 by Imprint Kepustakaan Populer Gramedia
Penerjemah: Reni Indardini
Rating: 3/5

[Ini mungkin bukan review, Cuma racauan saja :D]

Saya ingat kenapa saya tiba-tiba ingin buku ini setelah melihat satu postingan tentang wishlist buku di blog-nya, entah tahun berapa :D Yang jelas, saya langsung mengunduh buku dan kebetulan buku ini juga sudah difilmkan, sehingga saya juga mengunduhnya. Dan, sekian tahun kemudian, saya baru menginginkan paperback-nya, dan beberapa saat kemudian baru saya membacanya. Dan ternyata dua minggu tidak cukup untuk menyelesaikan membaca buku ini. Gangguan semacam buku kedua—Heels and Wheels—yang saat itu sedang saya baca, juga deretan dorama yang menggoda untuk ditonton :D. But, anyway, I did it. Itu juga dengan ancaman timbunan pinjaman baru yang tiba-tiba menggunung. Kalo saya tidak segera menyelesaikan buku ini, saya khawatir buku ini akan bernasib DNF. Fiuh…

Saya membaca beberapa review di Goodreads yang mengatakan buku ini lucu, itu yang membuat saya bersemangat membaca ini. Tapi ternyata, setelah saya membacanya, saya merasa joke disini memang lucu, meski yah, garing. Racauan Greg Gaines kadang membuat saya capek. Racauan dirinya yang tidak tergabung di grup manapun di SMA, karena ia memang tidak menginginkan bergabung di grup mana pun, serta film buatannya- bersama rekan kerjanya, Earl, membuat saya sedikit capek.  Ohya, saya tadinya berpikir bahwa Earl disini adalah seorang Earl, you know, seorang bangsawan, tapi teryata saya salah. Earl adalah nama seorang teman Greg di sekolah, sekaligus rekan dalam membuat proyek-proyek filmnya. Film-film yang dibuat Greg, diakuinya buruk, beberapa lumayan bagus, beberapa  sangat buruk. Dalam bukunya, Greg sering membuat racauan dalam bentuk dialog dengan font yang berbeda, atau beberapa kemungkinan ini dan itu, yang kadang membuat saya tergoda untuk melewatinya. Yah, ternyata buku ini tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Aneh, menurut saya. Sicklit, memang bukan buku yang asik dibaca, karena bakal ada banyak adegan menyedihkan di dalamnya, tapi tidak demikian disini. Well, saya memang tidak mengharapkan adegan mengharukan yang bakal menguras airmata, tapi melihat gaya penulisan buku ini, saya merasa aneh saja. 

Rabu, 17 Mei 2017

Wheels and Heels by Irene Dyah Respati


Scoop ebook 321 pages
Published by Elexmedia Komputindo, November 4, 2015
Rating 3/5

Mencicipi penulis metropop (?) yang tersedia di Scoop ternyata lumayan juga :D

Kisah berpusar pada Abilaasha, alias Abby yang punya nama berbau India dengan konflik keluarga plus perasaan naksirnya pada Adian. (nama2 karakter di novel ini bagus2, suka deh). Abby adalah seorang usher alias penjaga show room mobil (setau saya usher itu petugas yang bantu kita nyari tempat duduk di bioskop, ternyata ini namanya usher juga ya ), berasal dari keluarga biasa, keuangan keluarga setelah ayahnya meninggal praktis berada di pundaknya sebagai anak sulung. Bekerja banting tulang demi sekolah adik2nya sekaligus menghidupi warung peninggalan ayahnya yang setelah dipegang ibunya, ternyata kurang berkembang dengan baik.

Nicolette, atau Nico, sahabat paling karib dari Abby, sering kali menjodohkan Abby dengan pria2 kaya demi masa depan yang gemilang bagi Abby. Sebagai anak yang terlahir kaya, Nico merasa kasihan pada Abby yang pontang panting mengejar kontrak pekerjaan sana sini demi mengirim uang ke keluarganya.

Adian, cowok cakep keturunan keluarga kaya, naksir Abby sejak awal bertemu di sebuah acara pameran mobil. Well, sebenarnya mungkin Adian naksir kaki Abby yang jenjang nan indah. Sebagai seorang usher, tentu saja pakaian yang dipakai Abby selalu seksi dan mempertontonkan kaki jenjangnya. Adian adalah tipe cowok satu diantara sejuta cowok di Jakarta. Masih perawan, kata Nico. Usahanya mendekati Abby menemui berbagai kendala, mulai dari sifat malu-malu Adian, gosip pria2 kaya yang mengencani Abby hingga jenjang perbedaan finansial yang sangat mencolok antara keduanya.

Sabtu, 06 Mei 2017

Entrok by Okky Madasari




Ebook Scoop 282 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3,5/5

I think I have an issue for Okky Madasari’s books…

Saya sudah membaca beberapa karyanya, seperti Maryam dan 86, dan dari kedua buku itu saya mendapatkan rata-rata isu yang diangkat penulis untk bahan tulisannya: kaum pinggiran atau minoritas yang tak mampu melakukan apapun di tengah masyarakat mayoritas. Dan terlebih isu kental yang terjadi rata-rata di tahun-tahun era Orde Baru.

Bukannya saya tidak menyukai isu semacam ini, hanya membaca ini berasa mengingat luka lama yang ingin terkubur dalam-dalam. Saya pribadi tidak mengalami tekanan jaman Orba, tapi tetap masa-masa kegelapan itu terasa sangat menyakitkan ketika terbuka lagi, meski dalam bentuk fiksi (mungkinkah fiksi berdasarkan kisah nyata?). Beberapa penulis lain juga sering kali menulis era yang sama, tapi rasa yang saya dapatkan berbeda. Sebut saja Ayu Utami, Ahmad Tohari, dan beberapa cerpen milik Puthut EA. Saya merasakan adanya dendam teramat dalam dalam kisah-kisah yang ditulis penulis buku ini.

Sebelum membaca novel ini, saya menyempatkan sedikit membaca-baca review di Goodreads, rata-rata mereka memberikan rating bagus dengan memberi sedikit gambaran seputar perempuan-perempuan yang dikisahkan di novel ini; Sumarni dan Rahayu. Saya pikir kisah mereka adalah kisah yang berbeda yang sama-sama terinspirasi dari Entrok, alias bra, yang menjadi judul novel ini. Ternyata saya salah. Entrok hanya muncul di kisah bagian Sumarni saja. Selebihnya, isunya lebih kental mengarah pada agama atau kepercayaan dan pemerintahan Orba.