Jumat, 28 Februari 2014

#7 Bliss (The Bakery Trilogy #1) by Kathryn Littlewood





Paperback, 320 pages
Published  December 2012 by Noura Books
Penerjemah:  Nadia Mirzha
Rating: 3,5/5

Apa yang kau harapkan dari sebuah gigitan sebuah kue? Rasa kenyang yang biasa atau efek ajaib yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya? Jika yang terakhir yang kau harapkan, datanglah ke Toko Roti Bliss.

Toko roti ini dikelola oleh sepasang suami istri, Albert dan Purdy, dan empat orang anaknya, Thyme atau Ty, Rosemary atau Rose, Sage dan Leigh alias Parsley (semua adalah nama bumbu2 masak :-o). Yang menjadikan toko roti keluarga Bliss ini istimewa adalah karena efek ajaib yang ditimbulkan setelah memakan kue bikinan mereka. Nama kue boleh sama dengan kue pada umumnya, tapi bahan campurannya yang tidak umum. Contohnya saja halilintar, air liur gajah, sari vanili tahiti, dan masih banyak lagi bahan campuran ajaib lainnya. Belum lagi proses masaknya yang tak kalah ajaib: memarut bahan dasar dengan menyenandungkan nama pelanggan yang akan menikmati keajaiban kue ajaib ini. Rose, si anak kedua keluarga Bliss diam diam menjadi saksi diam bagaimana orangtuanya banyak membantu kekacauan yang terjadi selama ini di kota kecil tempat tinggalnya, Calamity Falls. Kehidupan mereka di tengah kue kue ajaib itu berjalan biasa hingga suatu hari muncul tugas tak terbantahkan dari pejabat negara untuk membantu kekacauan di bagian negara lain. Tak terelakkan, kedua orangtua Rose harus rela meninggalkan ke empat anaknya dan toko rotinya.


Kehidupan tanpa orangtua ini berjalan hanya sebentar karena secara tiba tiba muncul Bibi Lily,  bibi yang selama ini nyaris tak terdengar kabarnya. Antara melegakan dan mencurigakan dengan kemunculan tiba tiba bibi yang rupawan dan pandai mengubah segala yang selama ini terasa monoton menjadi berbeda dan menyenangkan. Ty, Sage dan Leigh langsung jatuh hati pada bibi Lily ini, tapi tidak bagi Rose yang merasa sesuatu yang aneh tiap kali menatap Bibi Lily. Sementara itu, Rose yang mendapat amanat dari orangtuanya untuk menjaga buku resep ajaib, Bliss Cookery Booke, tergoda untuk mencoba resep ajaib di dalamnya. Tak disangka, keajaiban yang ia harapkan, kekacauan yang ia dapatkan. Bersama kakaknya Ty, yang selama ini selalu ia anggap mencintai diri sendiri, berusaha bersama mengatasi kekacauan. Tapi ternyata tetap saja kekacauan itu tidak mereda, melainkan bertambah parah. Kali ini mau tak mau, kakak beradik Bliss ini harus membiarkan bibi Lily membantu mereka. Meski dengan menekan perasaan curiganya, Rose akhirnya luluh juga pada pesona bibi Lily.

Kisah keluarga pembuat roti ini bisa dikatakan adalah kisah dongeng anak anak pengantar tidur. Siapa yang tidak mengangankan  segala sesuatu berjalan dengan semestinya dengan satu gigitan kue? Cinta terpendam bisa luruh dengan satu ramuan resep ajaib, kebohongan tak terkendali bisa disembuhkan sempurna. Ah, kalo saya, saya pengen kue nikmat tanpa takut melar meskipun saya santap berpiring piring. Tapi, meski ajaib, tetap saja resep ajaib ini harus berada di tangan orang yang tepat hingga tidak akan menyalahgunakan keajaiban buku resep Bliss ini. Kehadiran bibi Lily melengkapi watak manusia, bahwa tidak semua orang seperti pasangan. Albert dan Purdy yang lebih memilih bekerja di belakang layar mengatasi kekacauan. Sementara bibi Lily yang meski telah populer tetap saja mendambakan keajaiban resep yang akan membuatnya lebih populer tak terkalahkan. Rose, sebagai anak tengah, mewakili perasaan anak tengah lainnya (seperti saya), yang merasa dirinya tak spesial, tak berbakat dan terabaikan. Perasaan ingin diakui, menjadi pusat perhatian adalah impian yang bisa saja diraih dalam sekejap dengan buku resep Bliss. Tapi apa artinya kepopuleran jika keluarga tak ada yang berada di sampingnya dan hanya menikmati buku resep Bliss Cookery Booke seorang diri?

Meskipun saya bilang buku ini seperti dongeng pengantar tidur, tapi banyak hal yang bisa kita dapatkan dari kisah keluarga Bliss ini. Kehangatan keluarganya, hubungan kakak adik yang terkadang hangat, terkadang dingin, Ramuan ajaibnya membuat terpingkal sekaligus terpekik ngeri. Imajinasi yang luar biasa dari penulisnya. 

Posting ini saya sertakan dalam Posbar Februari BBI dengan tema kuliner.

7 komentar:

  1. Ah, tapi aku sebagai anak tengah tidak bisa mengerti Rose :(
    Aku berharap ketinggian kayaknya untuk buku ini,hehehe :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sih ngerasain sedikit abandoned dikit di keluarga. Anak ke 3 dari 4 sodara... #malahcurcol

      Btw, aku ga berharap banyak kok dari buku ini ;))

      Hapus
  2. Covernya keceee. Kayak ada efek 3D gitu. Btw bisa nggak ya buku ini masuk kategori baca bareng ttg buku keluarga? Aku liat dari reviu di atas kayaknya unsur kekeluargaannya cukup kental.

    BalasHapus
  3. banyak yg berharap tinggi di buku ini karena covernya cantik. klo aq sih biasa aja, emang udah tau klo ini buku anak2, biasanya emang gampang banget dicerna.. *malahcurcol* aq baca ini juga buat posbar :D

    BalasHapus
  4. banyak juga ya yang baca ini, dan buku ini aku suka luar dalam :D

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-macaroon-love/

    BalasHapus
  5. aku masih ada buku ini di timbunan XD gak tahan sama covernya yg keren...

    BalasHapus