Auto-read VS Auto-buy Books
Ada beberapa penulis buku yang selama ini selalu menjadi incaran saya untuk membaca karya-karya mereka. Ada yang memang ingin saya miliki paperback-nya, ada pula yang sekedar sudah membaca sudah cukup puas.
Saya katakan auto baca bisa lewat platform apa saja, seperti aplikasi baca digital (Gramedia digital, Ipusnas, Rakata, dll) atau sedot-upload di Play Book hihihi #upsss... Jangan ditiru ya. Nah, ini dia deretan penulis yang auto baca.
1. Annisa Ihsani
Saya kenal penulis satu ini dari buku pertamanya berjudul Teka-Teki Terakhir. Waktu itu buku ini cukup populer di kalangan komunitas baca buku di Semarang. Dari satu tangan pemilik, bergilir ke peminjam satu ke lainnya. Dan saya naksir dengan karyanya. Jadi saya ngga pernah melewatkan karya-karyanya yang lain. A Untuk Amanda (remaja), Mencari Simetri (young adult), A Hole in The Head (middle grade), dan Bukan Pengikutmu Yang Sempurna. Judul terakhir ini saya sempat antri lama sekali di Ipusnas hingga akhirnya saya berlangganan Gramedia digital premium untuk membaca buku ini. Oh ya, dari sekian judul, saya hanya punya satu paperback-nya, yaitu Teka-Teki Terakhir. Itu pun saya beli preloved dari teman.
2. Akaigita
Saya kenal dengan penulis ini ketika satu hari iseng membaca satu karyanya di Gramedia Digital. Saya tertarik dengan namanya yang terdengar kejepang-jepangan :D Begitu kenal satu karyanya, saya langsung membaca semua karyanya yang saat itu sudah terbit di Gramedia digital. Ada 3 buku yang ternyata bersambung entah disengaja atau tidak oleh si penulis karena terbitnya tidak berurutan, tapi para karakternya sama, hanya berbeda tokoh utamanya saja. Ketiga buku itu adalah Enigma Pasha, Paradoks Bingar dan Bentala Sella. Ephemera tadinya saya pikir itu adalah cerita fantasi, tapi ternyata tidak. Agak serem juga sih. Hanya satu buku yang saya punya, yaitu The Arson Project. Itu saya beli karena tidak sabar menunggu tersedia di Gramedia Digital wkwkwk... Satu lagi karyanya yang tidak terbit di penerbit Gramedia berjudul Milk Cotton and The Gang, saya baca di aplikasi Rakata. Entah mengapa buku ini bahkan tidak muncul di Goodreads. Dan buku fisiknya pun tidak bisa ditemukan di mana mana. Padahal jika ada, saya sangat mau membelinya.
Yup, ini adalah penulis series terkenal Before The Coffee Gets Cold. Dari pertama mengenal buku pertamanya, saya yakin akan terus memburu lanjutan seriesnya. Yang tidak saya sangka adalah si penulis ternyata mempunyai begitu banyak ide untuk dituangkan hingga series ini sudah mencapai 5 buku, dan sepertinya buku ke enam akan segera dirilis. Saya hanya berharap semoga penggemarnya masih tetap menunggu kejutan di series selanjutnya, dan masih banyak airmata yang tumpah. Tsaaahhh... Oya, dari sekian buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya baru punya 2 bukunya. Dan itu pun belum saya baca karena saya sudah membaca ebooknya wkwkwkwk...
4. Ruta Sepetys
Penulis kelahiran Lithuania-Amerika ini sering mengangkat isu-isu seputar Perang Dunia II, holocaust, dan pemberontakan yang terjadi di negera-negara Eropa. Buku pertamanya yang saya baca berjudul Between Shades of Gray. Sukses membuat saya banjir airmata. Buku berikutnya Salt to the Sea tak jauh berbeda dengan buku pertamanya. Ketika kemudian Sepetys tidak lagi menulis seputar Perang Dunia II dengan holocaust-nya, saya merasa sedikit aneh. Tapi sebenarnya itu justru membuat saya belajar sejarah negara Eropa lain yang mengalami nasib represif karena pemimpinnya yang diktator. seperti di I Must Betray You dan The Fountain of Silence. Semoga lebih banyak lagi bukunya yang diterjemahkan. Ohya, dari sekian yang sudah diterjemahkan, saya punya 2 buku fisiknya lho :D
Yup, sepertinya hanya empat penulis itu saja yang bisa saya anggap sebagai penulis auto baca di radar saya. Mari bergeser ke penulis auto beli.
Pertama saya mengenal penulis ini dari buku pinjaman seorang teman, Girls in The Dark. Saya suka dengan misteri dan tentu plot twist-nya. Berlanjut ke buku dua, the Dead Returns. Saat itu saya masih pinjam dari seorang teman. Begitu si Ratu Misteri ini meluncurkan buku selanjutnya, saya memutuskan untuk membelinya. Dan mengoleksinya tentu saja. Dan saya punya semua bukunya! Woooowww....
2. Keigo HigashinoBisa dibilang sensei satu ini adalah penguasa novel detektif/ misteri. Pertama kali mendengar namanya justru dari keponakan saya yang mencari karya sensei ini karena bias-nya di dunia perK-pop-an suka dengan Higashino sensei. Barulah saya mencari buku apa saja yang sudah terbit dan apakah sudah ada versi terjemahannya. Yang pertama saya baca adalah The Confession of Mr. X. Saya tak mengira jika kemudian penulis satu ini menjadi salah satu auto-buy-books. Meski belum semua saya miliki karena harga buku terbitan Gramedia ini harganya minta ampun selangittt.. Saya kudu sabar menunggu hilal kapan kudu beli. Dan tentu saja hilal kapan baca. Seperti kebanyakan para pembaca a.k.a pengoleksi buku, atau tepatnya penimbun buku, masih ada beberapa buku yang sudah dibeli entah kapan dan akan dibaca entah kapan hahahaha... Mengikuti ajaran sesat teman-teman saya: LEBIH BAIK MENYESAL MEMBELI DARIPADA TIDAK MEMBELI!
Nama penulis ini wira-wiri di timeline goodreads saya hingga membuat saya kepo. Namanya yang unik membuat saya berpikir apakah ini buku terjemahan dari Eropa? Gambar sampulnya yang sederhana tapi menarik, dan rating tinggi membuat saya sangat ingin membacanya. Ketika akhirnya saya memutuskan membeli barang satu bukunya, akhirnya saya ketagihan. Hampir semua buku-buku ibu Reda ini saya beli, meski beberapa harus nunggu saldo bank memberi sinyal OK untuk melakukan check out di toko ijo hahaha... Dan Na Willa, series favorit saya kan rilis filmnya di bioskop di Lebaran tahun ini. Yeay! Can't wait!
Sebenarnya saya seperti mempunyai hubungan like and dislike dengan penulis satu ini. Ketika penulis asal Belitung ini merilis bukunya, saya tak begitu tertarik karena terkadang promonya yang begitu bombastis, bukan promo bukunya, melainkan si penulis. Mungkin saya agak terpengaruh oleh komentar orang-orang di sosial media yang mengatakan begini dan begitu mengenai pribadinya. Dan terus terang, ketika saya tidak membaca karyanya, saya merasa kangen dengan nuansa Melayu yang selalu ada di buku-bukunya. Tapi tak jarang pula, saya mengomel tentang betapa lebainya bahasa sastranya hahaha... Tapi so far, saya mengoleksi buku-bukunya. Sayangnya, koleksi series Laskar Pelangi saya raib entah kemana.
Penulis perjalanan ke Afghanistan ini dari buku pertamanya sudah membuat saya terpikat. Dari narasinya dilengkapi foto-foto yang ciamik selalu saya tunggu buku-buku barunya. Sayangnya bukunya yang terakhir, Kita dan Mereka: Perjalanan Menelusuri Akar Identitas dan Konflik Manusia belum bisa saya selesaikan. Narasinya sangat berbeda dari buku-buku sebelumnya. Buku terakhir ini berasa seperti buku sejarah sekolah lengkap dengan tahun dan gambar prangko kecil. Duh, ketebalannya saja sudah membuat keder, font yang kecil juga serta minim foto-foto yang memanjakan mata, entah kapan bisa saya selesaikan.
Hmmm... sepertinya itu saja yang ingin saya tulis di awal tahun 2026 ini. Semoga tahun ini saya bisa menyelesaikan Challenge baca di Goodreads tanpa harus kejar target ngos-ngosan karena terbuai dengan sosial media. Amin.

Penasaran banget sama karya-karyanya Keigo.
ReplyDeleteSelvia Sari: bisa mencicipi buku-bukunya Higashino sensei di Ipusnas. Kalo cocok, bisa koleksi. Tapi kudu sabar karena antrian panjaanggg 😁
ReplyDelete